Mencerahkan Masa Depan Lewat Buku

Selasa, 30 April 2013 | 13:38 WIB

Oleh Mas Agung Wilis Yudha Baskoro

MAS AGUNG WILIS YUDHA BASKORO Anak-anak sedang bermain dalam acara Books for Children 2013 di Jogja National Museum pada 31 Maret 2013.

MAS AGUNG WILIS YUDHA BASKORO
Anak-anak sedang bermain dalam acara Books for Children 2013 di Jogja National Museum pada 31 Maret 2013.

KOMPAS.com – Yogyakarta sebagai ”Kota Pelajar” selayaknya menghadirkan anak muda yang aktif, kreatif, dan mempunyai minat membaca yang tinggi. Sebagai wujud kepedulian terhadap cita-cita ini, Divisi Kewirausahaan Sosial Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada menggelar Books for Children 2013 di Jogja National Museum pada 31 Maret.

Acara ini meliputi lomba menggambar dongeng, penerbangan surat harapan dan cita, pameran foto bertema ”Dolanan Anak”, hiburan dan permainan anak, serta charity night concert yang dimeriahkan artis lokal Yogyakarta, seperti Melancholic Bitch, Everyday, Jalan Pulang, Musim Penghujan, serta Chick and Soup.

Mengusung tagline ”Bukumu Masa Depanku”, Books for Children 2013 berniat membantu mewujudkan mimpi masa depan anak-anak melalui buku.

Semangat berbagi yang dihadirkan diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat bahwa tindakan nyata dalam membangun bangsa salah satunya dengan berbagi buku. Buku-buku yang disumbangkan adalah buku cerita anak, dongeng, fabel, legenda, cerita rakyat, cerpen, cerita bergambar, komik edukasi, tabloid, biografi tokoh, dan buku-buku pengetahuan umum.

Sementara charity night concert diposisikan secara unik dan kreatif sebagai sarana untuk mengumpulkan buku.

Ketua Panitia Books for Children 2013 Vega mengatakan, setiap pengunjung wajib membawa satu buku anak untuk disumbangkan sekaligus menjadi tiket masuk.

”Seperti Books for Children tahun lalu, cara ini terbukti efektif menambah jumlah buku yang terkumpul,” katanya.

Buku-buku yang terkumpul lalu diberikan kepada berbagai pihak yang membutuhkan, seperti sekolah Gadjah Wong, ybrkKagem, dan beberapa sekolah dasar di Yogyakarta.

Membuka wawasan

Minat membaca bagi anak-anak merupakan hal penting. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang perlu dibimbing sejak dini. Bimbingan ini dilakukan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berbudaya. Salah satu bimbingan yang efektif untuk anak-anak adalah menumbuhkan minat membaca buku.

Sebagai sarana distribusi pengetahuan, buku mempunyai manfaat jangka panjang. Buku bisa membuat anak-anak mempunyai wawasan yang luas. Pada era globalisasi, wawasan yang luas akan memberikan kemudahan untuk mereka bersosialisasi dan beradaptasi.

Hal ini akan mudah dicapai ketika anak telah dibiasakan untuk menimbun wawasan lewat membaca buku sejak dini. Wawasan yang luas akan membentuk kepribadian yang berpikiran terbuka.

Walaupun demikian, keseimbangan antara kecerdasan otak dan kecerdasan emosional tetap terjaga. Ini karena buku-buku cerita anak umumnya bertema sosial dan persahabatan. Hal yang akan membuat anak mempunyai kecerdasan emosional.

Permainan tradisional

Tak ada yang bisa membendung kuat dan derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Kehadirannya tanpa pandang bulu bisa melibas semua hal. Siapa bisa bertahan, dia akan tetap hidup dalam globalisasi dan modernisasi. Permainan lawas pun berada di titik liminal antara ada dan tiada.

Kemunculan teknologi baru menggantikan teknologi lama, bagi sebagian orang dinilai telah usang. Itu termasuk permainan-permainan lawas yang mulai tergantikan dengan permainan digital. Namun, sesuatu yang telah usang belum tentu tak bisa didayagunakan.

Sebagai acara yang didedikasikan untuk anak-anak, Books for Children 2013 juga menyediakan arena bermain dengan menampilkan permainan lawas untuk anak-anak. Arena bermain sengaja ditempatkan di depan pameran foto bertema ”Dolanan Anak” agar semakin menguatkan kesan kepada pengunjung bahwa permainan lawas belum mati.

Beberapa permainan lawas disediakan, seperti gasing, peluit burung, dakon, dan tanah liat lukis. Permainan-permainan ini disediakan sebagai wujud kepedulian kepada anak-anak yang cenderung pragmatis, individualistis, dan kurang peka terhadap lingkungan.

Panitia, orangtua, dan kerabat membimbing anak-anak yang datang untuk bermain. Tak sedikit dari mereka yang asyik melukis burung, duel gasing, dan duduk ”manis” bermain dakon.

Permainan lawas mulai kehilangan peminatnya, tetapi dengan gerakan revitalisasi, seperti yang dilakukan Books for Children 2013, kita berharap agar semangat yang sama dapat kembali menghadirkan permainan lawas di tengah lingkungan kita. Bagaimanapun, permainan semacam itu telah ikut serta mengantarkan kita menjadi manusia yang berbudaya.

Books for Children 2013 adalah satu dari banyak cara untuk berbagi kebahagiaan. Berbagi adalah cara termudah untuk menanamkan kesadaran hati dan pikiran bahwa lewat membaca dan bermain, anak-anak bisa mendapatkan kebahagiaan masa kecilnya. Kebahagiaan itu akan menuntunnya menuju kebahagiaan di masa depan.
Mas Agung Wilis Yudha Baskoro, Mahasiswa Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: